Wednesday, October 7, 2009

Just intermezzo .................

Mengapa Lelaki Berbohong ?

(Buat para Perempuan... jangan terburu-buru berburuk sangka jika teman lelaki, Pacar atau Suaminya berbohong)
Begini Ceritanya :
Suatu hari, ketika sedang menebang pohon, seorang penebang kayu kehilangan kapaknya karena jatuh ke sungai. Lalu dia menangis dan berdoa, sehingga Dewa muncul.
Mengapa kamu menangis?
Sipenebang kayu sambil terisak menceritakan bahwa kapak sebagai sumber penghasilan satu-satunya telah jatuh ke sungai. Lalu Dewa menghilang dan muncul kembali membawa kapak emas.
Apakah ini kapakmu?
Bukan, Dewa !
Lalu Dewa muncul kembali membawa kapak perak.
Apakah ini kapakmu ?
Bukan, Dewa'
Lalu Dewa mengeluarkan sebuah kapak yang jelekdengan pegangan kayu dan mata besi.
Apakah ini kapakmu ?
Ya, Dewa, benar ini kapak saya.
Kamu orang jujur, karena itu Aku akan memberikan ketiga kapak ini untukmu sebagai upah kejujuranmu'
Lelaki itu sangat bersyukur dan pulang dengan gembira. Beberapa hari kemudian ketika sedang menyeberang sungai, istrinya terjatuh dan hanyut.
Lagi, sipenebang kayu menangis dan berdoa. Kemudian Dewa muncul.
Mengapa kamu menangis?
Istri saya satu-satunya yang sangat saya cintai terjatuh ke sungai, Dewa.
Lalu Dewa menghilang ke dalam sungai dan muncul kembali dengan membawa Jennifer Lopez '.
Apakah ini istrimu?
Ya, Dewa'
Lalu Dewa marah dan berkata Kamu berbohong, ke mana perginya kejujuranmu?
Lelaki itu dengan takut dan gemetar berkata, 'Dewa, seandainya saya tadi menjawab tidak, Dewa akan kembali dengan membawa Britney Spears, dan jika saat itu saya juga menjawab tidak, Dewa akan kembali membawa istri saya yang asli, dan jika ketika itu saya menjawab iya, Dewa akan memberikan ketiganya untuk menjadi istri saya.
Saya ini orang miskin, Dewa, tidak mungkin saya bisa membahagiakan tiga orang istri...

Begitulah ceritanya. Bagaimana menurut para pembaca !!!!!!!

Tuesday, August 18, 2009

Hukum Ringkas Puasa Ramadhan

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi

Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Di antara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hukum puasa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Adapun puasa wajib terbagi menjadi tiga: puasa Ramadhan, puasa kaffarah (puasa tebusan), dan puasa nadzar.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)
Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (Al-Qadar: 1-5)

Penghapus Dosa

Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)


Rukun Berpuasa

a. Berniat sebelum munculnya fajar shadiq. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu)
Juga hadits Hafshah Radhiyallahu ‘anha, bersabda Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam:

مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ


“Barangsiapa yang tidak berniat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini mudhtharib (goncang) walaupun sebagian ulama menghasankannya.
Namun mereka mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Hafshah, ‘Aisyah radhiyallahu`anhuma , dan tidak ada yang menyelisihinya dari kalangan para shahabat.
Persyaratan berniat puasa sebelum fajar dikhususkan pada puasa yang hukumnya wajib, karena Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam pernah datang kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pada selain bulan Ramadhan lalu bertanya: “Apakah kalian mempunyai makan siang? Jika tidak maka saya berpuasa.” (HR. Muslim)
Masalah ini dikuatkan pula dengan perbuatan Abud-Darda, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma. Ini adalah pendapat jumhur. Para ulama juga berpendapat bahwa persyaratan niat tersebut dilakukan pada setiap hari puasa karena malam Ramadhan memutuskan amalan puasa sehingga untuk mengamalkan kembali membutuhkan niat yang baru. Wallahu a’lam.
Berniat ini boleh dilakukan kapan saja baik di awal malam, pertengahannya maupun akhir. Ini pula yang dikuatkan oleh jumhur ulama1.


b. Menahan diri dari setiap perkara yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَأَدْرَكَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
“Jika muncul malam dari arah sini (barat) dan hilangnya siang dari arah sini (timur) dan matahari telah terbenam, maka telah berbukalah orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Puasa dimulai dengan munculnya fajar. Namun kita harus hati-hati karena terdapat dua jenis fajar, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Fajar kadzib ditandai dengan cahaya putih yang menjulang ke atas seperti ekor serigala. Bila fajar ini muncul masih diperbolehkan makan dan minum namun diharamkan shalat Shubuh karena belum masuk waktu.
Fajar yang kedua adalah fajar shadiq yang ditandai dengan cahaya merah yang menyebar di atas lembah dan bukit, menyebar hingga ke lorong-lorong rumah. Fajar inilah yang menjadi tanda dimulainya seseorang menahan makan, minum dan yang semisalnya serta diperbolehkan shalat Shubuh.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas c bahwa Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam bersabda:

الْفَجْرُ فَجْرَانِ فَأَمَّا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَلاَ يُحِلُّ الصَّلاَةَ وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنَّهُ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَيُحِلُّ الصَّلاَةَ

Fajar itu ada dua, yang pertama tidak diharamkan makan dan tidak dihalalkan shalat (Shubuh). Adapun yang kedua (fajar) adalah yang diharamkan makan (pada waktu tersebut) dan dihalalkan shalat.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 1/304, Al-Hakim, 1/304, dan Al-Baihaqi, 1/377)
Namun para ulama menghukumi riwayat ini mauquf (hanya perkataan Ibnu ‘Abbas c dan bukan sabda Nabi Shallallahu`alaihi wasallam). Di antara mereka adalah Al-Baihaqi, Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/165), Abu Dawud dalam Marasil-nya (1/123), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh-nya (3/58). Juga diriwayatkan dari Tsauban dengan sanad yang mursal. Sementara diriwayatkan juga dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah.
Wallahu a’lam.

Catatan kaki:
1 Cukup dengan hati dan tidak dilafadzkan dan makan sahurnya seseorang sudah menunjukkan dia punya niat berpuasa, red
—————————————————————————————————————————————–
Siapa yang Diwajibkan Berpuasa?

Orang yang wajib menjalankan puasa Ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu. Telah sepakat para ulama bahwa puasa diwajibkan atas seorang muslim yang berakal, baligh, sehat, mukim, dan bila ia seorang wanita maka harus bersih dari haidh dan nifas.
Sementara itu tidak ada kewajiban puasa terhadap orang kafir, orang gila, anak kecil, orang sakit, musafir, wanita haidh dan nifas, orang tua yang lemah serta wanita hamil dan wanita menyusui.
Bila ada orang kafir yang berpuasa, karena puasa adalah ibadah di dalam Islam maka tidak diterima amalan seseorang kecuali bila dia menjadi seorang muslim dan ini disepakati oleh para ulama.
Adapun orang gila, ia tidak wajib berpuasa karena tidak terkena beban beramal. Hal ini berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِي حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Meski anak kecil tidak memiliki kewajiban berpuasa sebagaimana dijelaskan hadits di atas, namun sepantasnya bagi orang tua atau wali yang mengasuh seorang anak agar menganjurkan puasa kepadanya supaya terbiasa sejak kecil sesuai kesanggupannya.

Sebuah hadits diriwayatkan Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz Radhiyallahu ‘anha:
“Utusan Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam mengumumkan di pagi hari ‘Asyura agar siapa di antara kalian yang berpuasa maka hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa yang telah makan maka jangan lagi dia makan pada sisa harinya. Dan kami berpuasa setelah itu dan kami mempuasakan kepada anak-anak kecil kami. Dan kami ke masjid lalu kami buatkan mereka mainan dari wol, maka jika salah seorang mereka menangis karena (ingin) makan, kamipun memberikan (mainan tersebut) padanya hingga mendekati buka puasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sementara itu, bagi orang-orang lanjut usia yang sudah lemah (jompo), orang sakit yang tidak diharapkan sembuh, dan orang yang memiliki pekerjaan berat yang menyebabkan tidak mampu berpuasa dan tidak mendapatkan cara lain untuk memperoleh rizki kecuali apa yang dia lakukan dari amalan tersebut, maka bagi mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib membayar fidyah yaitu memberi makan setiap hari satu orang miskin.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu`anhu:
“Diberikan keringanan bagi orang yang sudah tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari kepada seorang miskin dan tidak ada qadha atasnya.” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh keduanya)

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu tatkala sudah tidak sanggup berpuasa maka beliau memanggil 30 orang miskin lalu (memberikan pada mereka makan) sampai mereka kenyang. (HR. Ad-Daruquthni 2/207 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 7/204 dengan sanad yang shahih. Lihat Shifat Shaum An-Nabi, hal. 60)

Orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib atas mereka menggantinya di hari yang lain adalah musafir, dan orang yang sakit yang masih diharap kesembuhannya yang apabila dia berpuasa menyebabkan kekhawatiran sakitnya bertambah parah atau lama sembuhnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)
Demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap janinnya atau anaknya bila dia berpuasa, wajib baginya meng-qadha puasanya dan bukan membayar fidyah menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama.

Hal ini berdasar hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi Radhiyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمَ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah telah meletakkan setengah shalat dan puasa bagi orang musafir dan (demikian pula) bagi wanita menyusui dan yang hamil.” (HR. An-Nasai, 4/180-181, Ibnu Khuzaimah, 3/268, Al-Baihaqi, 3/154, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Yang tidak wajib berpuasa namun wajib meng-qadha (menggantinya) di hari lain adalah wanita haidh dan nifas.

Telah terjadi kesepakatan di antara fuqaha bahwa wajib atas keduanya untuk berbuka dan diharamkan berpuasa. Jika mereka berpuasa, maka dia telah melakukan amalan yang bathil dan wajib meng-qadha.
Di antara dalil atas hal ini adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلاَ نُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Adalah kami mengalami haidh lalu kamipun diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wallohu a’lam

posted in Fiqh Ibadah

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=295

Tuesday, June 9, 2009

GIMANA SIH JADI SOLEH ITU!!

Soleh itu didikan dan pendidikan, artinya sebelum anak itu kita di “setting” menjadi soleh, kitalah yang harus soleh duluan. Kemudian barulah dibekali dengan pendidikan agama memadai. Jadi harus dengan DIDIKAN & PENDIDIKAN
“Loh anak saya sering sholat kok!! Rajin ngaji, puasa nyenen kemis!!
Ntar dulu!! Sekali lagi saya katakan shalat itu adalah ibadah termurah dan begitu pula dengan puasa. Semua orang bisa melakukannya, mau kaya, miskin, excutive, satpam dll. Dan lagian jangan bawa sholat, puasa melulu…shalat atau puasa itu itu adalah kewajiban muslim..artinya apa? Seperti seseorang bayar pajak, apa dengan pajak itu dia berharap Negara Indonesia memberikan hak istimewa??
Shalat en puasa itu jangan dihitung jadi pahala, karena itu kewajiban. Masa kita minta hadiah atau keduanya jadi kebangaan bagi kita sebagai muslim!
“Kan pertama yang dihisab nanti shalat??”” (Tunggu tulisan berikutnya)
Jadi soleh itu gimana”?
Soleh itu adalah gaya hidup, soleh itu adalah satu sikap! Soleh itu bangunan jiwa, akal dan raga yang harus dibentuk dengan berbagai cara, harus ada panutan dalam mendidiknya.
Nah soleh (baik, bagus) itu diartikan 2 macam, soleh menurut Allah, dan soleh menurut manusia. Jadi soleh itu harus bisa merangkum 2 pengertian ini.
Soleh menurut Allah, berarti dia telah menjalankan semua minimal perintah standar Islam, shalat 5 waktu, puasa ramadhan, sedekah dll. Tapi tidak itu saja sekali pengetahuan Islam sangat mempengaruhi pula seorang anak menjadi soleh. Semakin tinggi Ilmu Islam yang dimiliki seseorang semakin berkualitas akal dan nalarnya, dan dimungkinkan dia menjadi super anak soleh.
Kedua, soleh menurut masyarakat, dan ini penting juga. Bagaimana bentuknya, dia berperangai ramah, sering membantu sesama, disukai teman-temannya, ringan tangan, senang membatu yang susah dll.
Jika dua standar ini dipenuhi, Insya Allah inilah yang dinamakan soleh!!
Dengan demikian soleh itu mungkin di dapat hanya lewat pendidikan saja.
Coba gini deh, “ Kalau seorang anak nggak pernah lihat ortunya ngasih sedekah, apa anaknya nanti mau ngasih sedekah? Kalau anak kagak pernah lihat ortunya, shalat malam, apa dikira anaknya mau shalat malam? Apalagi shalat wajib! Kalau bapaknya nggak pernah shalat jamaah di masjid apa anaknya mau ke masjid? Kalau ibunya nggak pernah ngaji, apa anaknya mau ngaji? Kalau ibunya nggak pernah bertegur sapa dengan tetangga, apa anaknya dikira mau nyambangin tetangga? Kalau bapaknya nggak mau gotong royong ama tetangga, apa dikira anaknya mau ringan tangan kalau dibutuhkan tetangga !!!dll

PERTANYAAN
Kalau misalnya, anak itu dah dianggap bagus agamanya, tapi dia tidak dianggap bagus oleh masyarakatnya, apa doanya akan sampai ke ortunya kalau berdoa?? Misalnya judes, sombong??
Atau orang ini baik banget, teman-teman ngak komplain, ringan tangan, sering bantu orang, tapi nggak pernah sholat! Apa doanya akan sampai ke ortunya kalau berdoa kelak???
Jawabannya tentu saja tidak
Jadi soleh itu susah sekali yah,,,
Jadi harus bagaimana…mulai dari kita sendiri, nggak bisa anak kita di suruh ngaji, shalat, sekolah agama kalau kita tidak mau memberi pendidikan Islam di tempat terhormat dalam kehidupan kita.


Beri Pendidikan Islam Tempat Terhormat
Kenapa saya tidak mau menjawab semua pertayaan yang diajukan pada saya? Apa saya sombong? Karena nggangap orang lain rendah?? No..no..no….ini jawabannya:

1. Karena saya ingin memberi kepercayaan anda untuk membangun akidah yang kuat, iman yang superior dalam jiwa dan akal kita!! Loh kok gimana bisa???
2. Kalau anda bisa mencari jawaban atas pertayaan sendiri baik mencari di internet, cari buku di toko buku, capek sedikit pergi ke masjid, bertanya ke ustadz di masjid, datang ke majelis taklim..dll. berarti anda telah membangun keyakinan dalam jiwa, anda telah menghornarti Islam dan anda jemput pengetahuan Islam dengan penuh hormat. Apakah tidak mungkin Islam akan menghormati dan memuliakan anda kelak??? Kan mau soleh katanya!!
3. Jawaban yang anda cari dengan susah payah cari di toko buku, pergi masjid, pergi majelis taklim, berkunjung ke rumah ustadz, akan menghasilkan energi positif yang akan merasuk dalam sukma. Akan membangkitkan gairah mencari ilmu lebih, lebih dan lebih dalam lagi. Kalau dengan nyantai bertanya, dan anda sendiri mampu mencarinya sendirit..kira-kira apa yang terjadi? Apa yang dihasilkan?? Secara tidak langsung anda tidak menghormati ilmu Islam, maka wajar sekali, Islam sulit di dekati, Islam sulit diraih, jauh bangeth deh Islam itu, tangan capek benget buka buku Islam, nyari di Internet dll. Pantaskah Islam memberi apresiasi pada anda!! Jadikan Islam sebagai seseorang, yang jika kita hormati dia akan menghormat balik?? Gimana caranya?? Kejar dia dimanapun adanya??? Sukses, bahagia dan paling penting hidayah selalu berkunjung tiap malam ke rumah kita.
4. Mengapa kita menunggu siraman rohani dari orang lain? Kalau kita bisa menyiram diri kita sendiri??? Masa ada bunga mawar minta disiramin tetangga sedangkan bunganya ada di rumah kita!! Ayo cari ilmu agama, dia akan terus menyirami diri kita. 

Ayo teman, basahi tangan dan kaki kita dengan pahala… ….masih ada kan toko buku? Ada kan internet….masjid di dekat rumah ada kan???..suka ada kan majelis taklim…banyak ustadz kan….datangi dan berkunjuglah…
Coba kira renungkan bentar aja..kira-kira kalau kita mati..anak-anak kita mau doakan untuk kita nggak??? jawab sendiri karena ini pertanyaan untuk kita...dan hanya terjawab kalau kita mati kelak

Semoga bermanfaat

Wednesday, June 3, 2009

KESIMBANGAN

Pada waktu saya ke Malang bulan Maret yang lalu, saya sempat ngobrol dengan pak Pri (yanto). Dalam obrolan itu ada kata-kata saya yang di quot oleh pak Pri, yaitu : kata "sakit" padanannya bukan "mati", kata "sehat" padanannya bukan "hidup" tapi, sakit padanannya sehat, kalau mati padanannya hidup.
Mengapa saya ingat obrolan ini........karena tetangga saya di jl. Gelatik ini, tadi sore jam 3 meninggal, padahal tadi pagi jam 6 pagi saya masih ketemu, sedang jalan-jalan didepan rumah, dalam keadaan sehat wa alfiat. Sedangkan di tempat lain ada yang sakit sudah ber tahun-tahun, tidak meninggal, tapi juga tidak kunjung sehat.
Jadi jelas Allah itu menciptakan segala sesuatu seimbang, ada siang ada malam, ada sedih ada senang, ada baik ada jahat, ada laki-laki ada wanita ( Allah tidak menciptakan banci....jadi banci itu tidak adal dalam Islam) dan seterusnya.....
Tetapi manusia dengan kepandaiannya ( atau kebodohannya ) mencoba melawan keseimbangan yang diciptakan Allah....Astagfirullah....maka terjadilah ketidak seimbangan dalam kehidupan ini...akibatnya luar biasa..... Terjadi kerusakan-kerusakan dalam alam dan kehidupan ini, yang lebih parah adalah.... kerusakan peradaban manusia. Ditengah kemajuan teknologi yang luar-biasa terjadi kemunduran peradaban manusia yang luar biasa, ketidak pedulian terhadap sesama, ketidak pedulian terhadap kesepakatan bersama, misalnya : kesepakatan bahwa di Indonesia kendaraan dijalankan disebelah kiri, tapi karena saya mau kekanan maka saya berkendara disebelah kanan ( melawan keseimbangan ). Ini hanya contoh kecil, banyak sekali dalam kehidupan ini kita temui hal yang lebih besar yang melecehkan kemanusiaan itu sendiri.
Marilah kita saling mengingatkan, untuk menjaga keseimbangan2 ciptaan Allah. Semoga bermanfaat.

Friday, May 8, 2009

GARAGE SALE DI BINTARO















Sudah 2 kali ini kami menggelar GARAGE SALE di Bintaro. Yang pertama akhir bulan Maret, dan yang kedua akhir bulan April. Yah... lumayanlah buat membersihkan gudang, dan merelakan barang-barang yang ternyata tidak dimanfaatkan bertahun-tahun.


Kalu dipikir-pikir, kita seringkali membeli barang-barang atas dasar LAPAR MATA. Setelah dibeli, dan dipakai beberapa kali, ternyata tidak kita manfaatkan lagi, atau sudah bosen.

Dan ternyata, banyak orang dapat lebih memanfaatkannya. Baju-baju yang sudah tidak kita pakai, dan hanya tergantung di lemari kita bertahun-tahun (dengan impian : akan dipakai suatu suaat..), buku-buku yang sudah habis kita baca (dan sudah hapal luar kepala ??), barang elektronik yang sudah jadul, bahkan yang sudah rusak atau tidak lengkap lagi.... ternyata banyak peminatnya. Para kolektor barang unik dan antik, para penghobby kotak-katik barang elektronik, juga para duafa yang memerlukan barang keperluan sehari-hari yang terjangkau harganya, ibu-ibu pedagang nasi campur, bubur, atau warung kopi, sangat menghargai barang-barang yang kita pikir sudah tidak "laku" atau tidak berharga....

Alhasil, sama-sama diuntungkan.... kita dapat mendonasikan hasil penjualan GARAGE SALE tersebut ke Yayasan Sosial, dan sekaligus membersihkan rumah kita dari barang-barang tak berguna, dan pembeli dapat memanfaatkan barang-barang tersebut, dengan memperolehnya dengan harga murah.

Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas segala partisipasi dan bala bantuan dari para sedulur Sepoetro, yang telah meluangkan waktu dan tenaganya selama persiapan maupun waktu penyelenggaraan. Hasil keseluruhan dari 2 kali gelar acara tersebut sekitar Rp 25 juta Rupiah. 10% disumbangkan ke Yayasan Bakti Warga Reksa. Selebihnya, dikembalikan ke penyalur barang-barang tersebut.

Saya mendapat banyak usulan untuk menyelenggarakan GARAGE SALE lagi di kemudian hari....bisa dipikirkan untuk kegiatan sosial Sepoetro. Dan tempatnya tidak harus di Bintaro...cari lokasi yang lebih sentral aja... kami juga sudah memiliki beberapa calon pembeli, yang minta dihubungi kalau memang kita mau mengadakan GARAGE SALE lagi.